Sunday, 14 July 2013 05:14

Kerja Politik Tak Lagi Mudah di Serambi Mekkah

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Juni, 11 2013

Jakarta - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak lagi bisa maju gelanggang, terbentur ketentuan konstitusi sudah dua kali menjabat sebagai Presiden. Tak lagi berlaganya sang ikon partai membuat Partai Demokrat mesti bekerja lebih keras lagi.

"Kami tak bisa lagi berlehaleha, harus kerja lebih keras lagi di Pemilu 2014 ini," kata calon legislator Demokrat untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh II, Muslim, di Jakarta, kemarin. Kerja politik di Serambi Mekkah memang tak lagi mudah, kata pemegang tiket Senayan dari Dapil Aceh II tersebut. Faktor SBY cukup berpengaruh ketika bertanding pada Pemilu 2009.

Tapi, kini, pendiri Partai Demokrat itu tak lagi bisa maju ke pemilihan presiden. Terlebih, Partai Aceh, yang dulu "menyokong" Demokrat di Serambi Mekkah, kini lebih merapat ke Gerindra. Menurut Muslim, itu juga memberi pengaruh. Kini, medan jibaku politik akan lebih keras dan sengit. Meski begitu, dia dan calon legislator Demokrat lainnya siap bertanding dengan partai dan calon pesaing.

"Kami akan bekerja keras agar Demokrat tetap mendapat kursi," kata Muslim. Untuk itu, dia sudah lama rajin blusukan merawat konstituennya dan menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat di dapilnya. Dia masih optimistis bisa kembali melenggang ke Senayan pada pemilu nanti. Pada Pemilu 2009, prestasi politik Partai Demokrat di Serambi Mekkah paling kinclong, meraih suara paling banyak di antara partai peserta lainnya. Pada pemilu lalu, di Aceh, Demokrat mendulang 751.444 suara atau 40,84 persen dari total jumlah suara.

Medan politik Dapil Aceh II sendiri meliputi Kabupaten Aceh Tamiang, Bireun, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, dan Kota Langsa. Pada pemilu lalu, di Dapil Aceh II, Demokrat menikmati masa keemasan politiknya. Dari enam kursi yang diperebutkan, empat di antaranya disabet oleh kader partai bintang mercy tersebut. Tiket Senayan pada Pemilu 2009 berhasil dipersembahkan oleh empat politisi Demokrat, yaitu Mirwan Amir, Muhammad Azhari, Muslim, dan Teuku Irwan.

Dua tiket politik sisanya dicuri Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Marzuki Daud menjadi satu-satunya kader beringin yang mampu melenggang ke Senayan lewat Dapil Aceh II, sementara dari "Partai Kader" yang sukses menuju Senayan adalah Raihan Iskandar. Tak mau kehilangan kursi, pada pemilu kali ini, Demokrat kembali mengandalkan pemegang tiket Senayan. Muslim dipasang dengan nomor urut satu, sementara nomor urut dua diisi oleh petahana Senayan, Teuku Irawan. Untuk nomor tiganya ditempati Mirnawati, sedangkan untuk mengisi nomor urut empat Demokrat kembali mendaftarkan Mirwan Amir, pemilik tiket Senayan pada pemilu yang lalu. Nama Muhammad Azhari tak lagi didaftarkan

Pertarungan Sengit

Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Saleh Daulay, medan politik di Aceh akan jadi ajang laga yang sengit bagi para caleg. Siapa yang punya kans merebut tiket, adalah caleg yang sudah dikenal luas di kalangan masyarakat Aceh atau di dapilnya. Para petahana Senayan, pastinya, yang paling berpeluang kembali melenggang ke Senayan.

Di sinilah pentingnya figur-figur yang diusung oleh partai politik. Semakin bagus fi gur yang didorong, semakin besar pula peluang mendapatkan kursi. Itulah sebabnya jarang sekali orang dari luar Aceh yang siap bertanding di daerah itu.

Menurut Saleh, pemilih di Aceh memiliki kekhususan tersendiri. Selain kapasitas intelektual dan integritas moral, hal lain yang dinilai adalah tentang pengetahuan dan pengamalan ajaran agama. "Karena itu, jangan heran dalam setiap pilkada, ada budaya tes membaca Al Quran. Penguasaan terhadap ilmuilmu agama menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan para pemilih di Serambi Mekkah," kata Saleh.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Dwipayana, mengatakan Partai Demokrat harus sangat bekerja keras di Dapil ini. Selain bekerja keras, Demokrat juga harus melihat hubungan dengan partaipartai lokal Aceh. Pada 2014 mendatang dukungan partai lokal Aceh akan sangat berbeda dengan 2009. Strategi mencalonkan petahana Senayan juga ditempuh Partai Golkar. Pemegang tiket parlemen pada Pemilu 2009, Marzuki Daud, kembali dicalonkan Beringin di nomor urut lima.

Nomor urut satu diisi Kaharudin Syah, seorang aktor berdarah Aceh. Pada nomor urut dua, partai yang pernah begitu digdaya di era Orde Baru itu memasang Firmandez, sementara untuk mengisi nomor urut tiga Beringin mendaftarkan Fariawati. Banteng moncong putih, PDI-P, tentu ingin menciptakan sejarah meraih kursi di Serambi Mekkah, terutama di Dapil Aceh II.

Tiga kader banteng, Karimun Usman, Husaini Setiawan, dan Meiny Karolina, dipercaya untuk mengisi nomor urut tiga besar daftar caleg PDI-P. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pun tak mau menjaring angin dengan mengirimkan Anwar Idris, Murhaban Makam, dan Nurdahri Ibrahim Nain, untuk berjibaku di sana. Ketiganya adalah pengisi tiga besar nomor urut caleg PPP.

sumber : koran-jakarta.com

Read 5721 times
Saleh Daulay

Rumah online Anggota DPR-RI Fraksi PAN. Fight for Justice and Humanity.

Add comment


Security code
Refresh

Kontak

Gedung DPR-RI, Jl. Gatot Subroto, Nusantara I, Lantai 19, Senayan Jakarta.

Email: i[email protected]

DPR Links