26
May

Alfred Jules Ayer was a key proponent of emotivism. In ethical theory, emotivism is considered as a non-cognitivism which contends that moral judgments are expressions of moral attitudes or opinion that cannot be true or false. As a branch of non-cognitivism, emotivism holds that moral judgments are expressions of positive or negative feelings. For an emotivist, a statement like “lying is wrong” has no meaning. Its meaning is no more than “yuk boo!” that expresses a negative feeling about something. Since it is not an empirical or analytical statement, we cannot justify whether it is right or wrong. At this point, we can see how emotivism and subjectivism are different. Unlike emotivism, subjectivism declares that we can justify right or wrong (moral judgments) through subjective states of individuals. Thus, a moral judgment such as “lying is wrong” could be right or wrong depends on the feelings and attitudes of the persons who think about such things.
 

26
May

In chapter III of Sufism and Taoism, Toshihiko Izutsu discusses the self-knowledge of man. It seems to be that there is a paradox. On the one hand, it is mentioned that God is totally unknowable. From ontological point of view, for instance, it considers God as a Pure Quintessence about which we can know nothing at all nor with which we can come into direct contact. And on another hand, it is asserted that the aim and benefit of hikmah is the cognizance (ma’rifah) of God.
 

26
May

Existentialism


Existentialism is a philosophical term which posits that individuals create the meaning and essence of their lives. Existentialism asserts that “existence precedes essence,” which is in opposition to the classical doctrine that “essence precedes existence.” The claim “existence precedes essence” is a rejection of the idea that human nature has an end or goal. In this sense, humans are free to choose their own destiny.
 

26
May

Beberapa waktu lalu, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika menerbitkan buku yang berjudul "Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia." Konon kabarnya, buku ini telah menuai banyak protes dari berbagai kalangan, terutama mereka yang menjadi objek langsung penulisan buku tersebut. Bahkan dikabarkan pula bahwa ada sekelompok orang yang sengaja merazia toko-toko buku untuk memusnahkan buku tersebut (ini perlu diklarifikasi juga sebab sejauh ini saya belum pernah membaca beritanya). Walaupun saya bersetuju terhadap banyak pemikiran yang ditulis dalam buku itu, namun saya melihat ada beberapa hal yang perlu dikomentari, antara lain:

26
May

Berbicara strategi kebudayaan dan peradaban Islam, tesis Samuel P. Huntington tentang the clash of civilization dapat dijadikan langkah awal dalam melihat posisi peradaban Islam di tengah konstalasi peradaban global. Huntington menyebutkan di dunia ini terdapat tiga poros peradaban besar: Barat, Cina, dan Islam. Menurutnya, kontradiksi-kontradiksi antar peradaban tersebut akan menciptakan konflik yang berakar dari benturan peradaban besar yakni hegemoni Barat, intoleransi Islam, dan arogansi China.

26
May

Kata orang bijak, di balik bencana selalu ada hikmah. Bahkan badai tsunami yang melumat sebagian Aceh dan Nias beserta sebagian ekosistem yang ada di dalamnya, yang diduga paling dahsyat sepanjang abad ini, juga mengandung hikmah, menumbuhkan kesadaran kolektif, merasakan senasib sepenanggungan.

26
May

“Putaran zaman itu sungguh menakjubkan, sekali waktu engkau akan mengalami keterpurukan, tetapi pada saat yang lain engkau memperoleh kejayaan"

 (Imam Syafii).

Waktu laksana air yang mengalir ke hilir yang takkan pernah kembali ke hulu. Itulah gambaran betapa pentingnya arti waktu bagi kehidupan manusia. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kalkulasi akurat dalam menjalani sisa kehidupan yang dimilikinya. Masing-masing sibuk menghadapi riak dan gelombang kehidupan yang secara alami datang silih berganti menyapa setiap manusia. Riak dan gelombang merupakan dialektika kehidupan yang harus disikapi dengan bijaksana.

Page 5 of 7

Kontak

Gedung DPR-RI, Jl. Gatot Subroto, Nusantara I, Lantai 19, Senayan Jakarta.

Email: i[email protected]

DPR Links