Wednesday, 20 June 2012 11:39

Suka Duka Belajar di Negeri Orang (6)

Written by 
Rate this item
(0 votes)
Rolston menerima penghargaan Templeton Price di  Buckingham Palace Rolston menerima penghargaan Templeton Price di Buckingham Palace Foto: lamar.colostate.edu

Belajar filsafat lingkungan dengan Rolston kelihatannya sederhana. Tetapi dalam praktiknya, tetap sulit. Referensi utama yang dipakai dalam mata kuliah ini adalah sebuah buku yang berjudul "Nature, Value, Duty: Life on Earth with Holmes Rolston, III". Buku ini ditulis dalam rangka memperingati 70 tahun Rolston sekaligus menghargai kontribusi Rolston dalam mengembangkan filsafat dan etika lingkungan.
 

Tak pelak, buku ini ditulis oleh 14 orang professor filsafat lingkungan dari berbagai universitas dan negara. Tulisan keempat belas professor itu berbicara tentang pujian sekaligus kritik mereka terhadap pemikiran Rolston yang tersebar di berbagai karya akademiknya. Pada bagian akhir buku itu, Rolston menulis satu bab khusus sebagai jawaban terhadap para pengeritiknya tersebut.

Nah, selain memberi tugas reading yang lumayan banyak (minimal 40 lembar seminggu), Rolston selalu memberi tugas yang didasarkan pada buku tadi. Tugas yang diberikan sangat sederhana. Pertama, membaca satu bab tulisan yang ada dari buku itu. Kedua, menulis satu lembar rangkuman dari hasil bacaan tersebut. Setengah lembar dari tulisan itu harus memuat kritik paling pedas yang ditujukan kepada Rolston. Sementara setengahnya lagi memuat jawaban Rolston yang menurut mahasiswa paling baik dalam menanggapi kritik itu.

Ada sejumlah kesulitan dalam tugas ini. Pertama, mahasiswa dituntut untuk membaca serta memahami tulisan yang ada. Kedua, untuk memahami tulisan itu diperlukan membaca referensi lain terkait topik yang dibicarakan. Sebagai pemula, rasanya sangat mustahil bisa mengerti dan memahami kritik tanpa terlebih dahulu mengerti duduk persoalan yang dibicarakan.

Kesulitan ketiga adalah merumuskan kesimpulan bacaan dalam satu lembar. Kalau hanya sekedar menulis kesimpulan, barangkali tidak begitu sulit. Akan menjadi soal bila kesimpulan itu tidak boleh lebih dan kurang dari satu lembar. Selain pemahaman, kemampuan berbahasa juga merupakan suatu keharusan.

Selain terus menerus berkonsultasi dengan Rolston setiap minggunya, saya juga melakukan berbagai upaya lain. Terbesit dibenak saya untuk mencari siapa-siapa saja mereka yang menulis dalam buku itu. Saya coba membrowsing nama mereka di internet. Alhamdulillah, dengan sangat mudah saya mendapatkan informasi tentang mereka. Saya lalu menyimpan semua alamat email yang saya dapatkan.

Langkah berikut yang saya lakukan adalah mengirim email ke masing-masing orang. Dalam email tersebut saya memperkenalkan diri sebagai salah seorang mahasiswa Rolston. Tidak lupa saya menyebut bahwa kritik dia terhadap Rolston semester ini dijadikan sebagai referensi utama di kelas Rolston. Setelah memberi informasi itu, lalu saya menanyakan dari sekian banyak kritik yang disampaikan, apa kira-kira hal fundamental yang perlu diluruskan dari pemikiran Rolston? Selain itu, apakah menurutnya dia sudah puas dengan jawaban Rolston di akhir buku itu? Ingat, kedua hal ini adalah pertanyaan yang disampaikan Rolston dalam tugas itu.

Mereka semua memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Bahkan, di antara mereka ada yang tersanjung karena tulisannya dijadikan sebagai referensi utama di kelas Rolston. Tetapi ada juga yang menjawab bahwa sesungguhnya kritik dia itu tidaklah ada apa-apanya dibandingkan pemikiran-pemikiran Rolston yang telah terbangun secara sistematis. Tetapi intinya, semua mereka telah menjawab pertanyaan Rolston untuk saya. Bahkan, saya telah mendapatkan semua jawaban dari pertemuan kedua sampai terakhir.

Namun demikian, tugas belum selesai sampai di situ. Saya harus membahasakan sendiri jawaban mereka dalam satu lembar. Saya kembali berpikir mencari cara. Setelah menulis rangkuman yang diminta, tulisan itu lalu saya bawa ke pusat bahasa. Perlu diketahui, CSU menyediakan konsultasi penulisan tugas dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Konsultasi ini diorganisir oleh jurusan bahasa Inggris. Konsultannya adalah mahasiswa-mahasiswa senior yang dinilai memiliki kemampuan menulis yang baik. Sebelum menjadi konsultan, mereka terlebih dahulu mengikuti semacam tes tulis dan wawancara. Mereka yang terpilih akan dibayar oleh CSU kurang lebih 10 dollar per jam.

Siapa saja yang mau mengkonsultasikan tugas-tugas perkuliahannya akan dilayani di sini. Masing-masing mahasiswa diberi waktu 30 menit. Bila merasa kurang, mahasiswa yang bersangkutan boleh datang lagi atau menunggu sampai habis antrean yang ada. Pada mulanya, saya berpikir yang konsultasi pastilah mahasiswa international saja. Ternyata saya salah. Di sana banyak juga mahasiswa lokal yang ikut antrean. Fenomenaa ini sedikitnya mengurangi rasa minder ketika konsultasi.

Dalam konsultasi, biasanya saya hanya meminta mereka untuk membaca tulisan saya. Setelah itu saya tanya apakah mereka memahami isi tulisan itu dengan baik. Bila mereka memahami, maka saya menganggap konsultasi itu telah selesai. Tugas itu kemudian saya bawa ke Rolston untuk didiskusikan lebih lanjut.

Saya sungguh gembira mendengar pujian Rolston terhadap tugas yang diberikannya. Dia lalu bertanya bagaimana saya bisa mengerjakan tugas itu dengan baik. Walau sedikit ragu, saya akhirnya menjelaskan seluruh upaya yang saya lakukan. Tak disangka, Rolston ternyata senang dengan upaya saya itu. Malah, dia meminta semua jawaban dari pengeritiknya itu. Tentu dengan senang hati saya memforward semua jawaban mereka kepada Rolston.

Kegembiraan saya semakin bertambah ketika mengetahui bahwa setiap minggu Rolston membagikan jawaban yang saya peroleh itu ke masing-masing mahasiswa. Dia sengaja membagi jawaban itu secara berurut setiap minggu sesuai dengan urutan topik yang dibicarakan hari itu. Tidak lupa ia menjelaskan bahwa jawaban itu diperoleh atas usaha Saleh berkomunikasi dengan para pengeritiknya. Kata Rolston, "Usaha ini harus diapresiasi karena informasi itu langsung diperoleh dari sumbernya".

Ketika sampai pada topik diskusi "apakah bencana alam itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan atau tidak", saya membawa dua file video Tsunami Aceh kepada Rolston. Kedua file itu saya peroleh dari internet. Rolston mendiskusikan kedua video itu dengan saya. Saya tidak menyangka kalau video itu juga diputarnya di kelas. Dia bahkan menjadikan video itu sebagai bahan diskusi untuk merenungkan hakikat bencana dalam kacamata etika lingkungan. Kali ini Rolston juga berterima kasih pada saya yang telah mau membagikan video itu.

Oh ya, saya masih ingat waktu saya mengambil mata kuliah Rolston adalah pada saat bulan puasa. Ketika itu, waktu imsak berakhir sekitar pukul 4 pagi. Sementara berbukanya adalah pukul 9 malam. Artinya, saya harus puasa lebih lama dari waktu puasa di Indonesia. Walau terasa berat, alhamdulillah puasa saya tetap lengkap. Saya selalu membawa air dan dua buah roti di dalam tas. Ketika waktu berbuka tiba, saya berniat berbuka puasa dan meminum air yang saya bawa. Pada saat istirahat, saya hanya memakan dua buah roti yang saya bawa. Setelah kuliah selesai pukul 10, barulah saya pulang ke apartment untuk menyempurnakan buka puasa saya.

Ada kenikmatan tersendiri melaksanakan puasa dengan kondisi seperti itu. Terasa betul tantangan dan godaannya. Apalagi suasana di kampus penuh dengan mahasiswi yang kadang pola berpakaiannya sangat mengganggu kekhusyukan orang yang berpuasa. Selain menahan lapar dan dahaga, penglihatan betul-betul harus dijaga. Hal itu mesti dilakukan untuk menghindari ancaman nabi yang berbunyi, "berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa pun dari puasanya selain lapar dan dahaga".

Tidak terasa, kuliah dengan Rolston sudah hampir selesai. Di akhir perkuliahan, ia memberikan UAS dalam bentuk take home test. Walaupun dikerjakan di rumah, UAS itu tetap berat. Pasalnya, kedelapan soal yang diberikan rata-rata menanyakan refleksi mahasiswa terhadap suatu kasus tertentu. Artinya, jawabannya tidak ada di dalam buku, tetapi murni harus keluar dari pemikiran mahasiswa.

Dengan segala upaya yang saya lakukan, alhamdulillah saya lulus dengan nilai A. Saya sendiri tidak menyangka bisa berhasil menaklukkan mata kuliah itu. Hasil yang diperoleh ternyata melebihi harapan saya yang hanya sekedar bisa lulus dengan nilai B. Ketika bertemu Rolston pada awal semester berikutnya, saya bertanya apakah Rolston memberikan nilai melebihi batas kemampuan saya. Dengan enteng dia menjawab bahwa menurut penilaian dia, saya memang betul-betul memahami perkuliahan itu dengan baik. Bahkan dia mengatakan bahwa upaya sungguh-sungguh saya dalam mengikuti kuliah itu melebihi mahasiswa-mahasiswa lain di kelas itu.

Semester berikutnya, saya juga memutuskan untuk mengambil mata kuliah Rolston yang lain. Kali ini adalah mata kuliah "Science and Religion". Kuliah ini terbuka untuk umum. Tidak heran bila banyak mahasiswa dari berbagai jurusan yang juga tertarik. Ada sekitar 80 mahasiswa. Kuliah menjadi menarik karena latar belakang disiplin keilmuan mahasiswa yang berbeda-beda. Mahasiswa melihat relasi sains dan agama dari perspektif keilmuwan masing-masing. Ada yang melihat dari sisi medis, fisika, kimia, biologi, antropologi, dan lain-lain.

Oleh karena harus melayani banyak mahasiswa, waktu untuk berkonsultasi bagi saya juga tidak disediakan khusus. Saya hanya datang jika ada hal-hal yang menurut saya perlu ditanyakan langsung. Meski setiap dosen selalu menyediakan waktu khusus untuk konsultasi di luar jam kuliah, namun waktu itu kelihatannya lebih banyak diambil oleh mahasiswa-mahasiswa lain.

Bagi saya, mata kuliah ini sangat menarik karena sebelum berangkat ke CSU, saya pernah menulis buku "Kloning dalam Perspektif Islam". Nah, tugas saya dalam mata kuliah ini saya ambil dari salah satu bagian dari buku itu. Alhamdulillah, saya juga dapat menyelesaikan mata kuliah ini dengan baik. Saya betul-betul merasa beruntung. Bukan hanya karena berhasil menyelesaikan mata kuliah tersebut, tetapi karena belajar langsung dari seorang professor senior yang oleh banyak orang disebut sebagai filosof.

Selain itu, saya juga merasa beruntung karena pada semester terakhir saya di CSU, Rolston menawarkan saya untuk melanjutkan ke S-3. Katanya, dia telah menghubungi Princeton Theological Seminary untuk mendapatkan beasiswa. Hanya saja, ada syarat yang harus saya penuhi yaitu bersedia mengajar pengantar studi Islam. Tentu syarat ini tidak susah. Saya langsung mengiyakan. Saya percaya bahwa rekomendasi Rolston sangat ampuh. Apalagi untuk lembaga seminary seperti itu. Sebagai seorang pendeta senior, nama Rolston telah melembaga di berbagai institusi pendidikan Kristen di USA. Buku-bukunya banyak dijadikan sebagai referensi utama di lembaga-lembaga pendidikan itu.

Sayangnya, saya terpaksa menunda keinginan saya untuk langsung S-3 di sana karena tidak mendapat izin dari Ibu saya. Ketika itu ibu saya mengatakan, "Apa lagi yang dikejar dari sekolah terus. Sementara saya ini sudah tua. Selama ini jarang bertemu karena kamu selalu sibuk sekolah". Yang membuat saya tak berkutik adalah ketika ibu saya mengatakan, "Bayangkan kalau ada apa-apa yang terjadi pada saya. Bisa gak kamu langsung pulang ke Indonesia? Jangan sampai nanti menyesal di belakang hari".

Mendengar itu, saya menghadap Rolston untuk meminta maaf karena saya harus kembali ke Indonesia. Saya menjelaskan sejumlah alasan. Tentu saja alasan utama saya adalah permintaan ibu saya tadi. Meskipun berat hati, peluang emas yang ditawarkan Roslton itu harus dihapus dari agenda saya.


Bersambung...

Read 18793 times Last modified on Thursday, 12 July 2012 01:21
Saleh Daulay

Rumah online Anggota DPR-RI Fraksi PAN. Fight for Justice and Humanity.

Add comment


Security code
Refresh

Kontak

Gedung DPR-RI, Jl. Gatot Subroto, Nusantara I, Lantai 19, Senayan Jakarta.

Email: i[email protected]

DPR Links