Saturday, 30 June 2012 20:10

Suka Duka Belajar di Negeri Orang (8)

Written by 
Rate this item
(0 votes)
Suka Duka Belajar di Negeri Orang (8) Foto: favim.com

Di tengah kesibukan kuliah dan kegiatan lainnya, mahasiswa Amerika sering mengisi waktu luangnya dengan membuat pesta. Pesta dimaksudkan sebagai media bersosialisasi sekaligus untuk menghibur diri dari kepenatan menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, orang Amerika juga mengenal banyak hari yang perlu diseleberasi dengan sebuah pesta. Di antara hari-hari itu adalah Ester day, father’s day, mother’s day, Halloween, Valentine, Christmas, Thanksgiving, dan lain-lain.

Sebagai bagian dari komunitas mahasiswa pascasarjana di CSU, saya beberapa kali diundang untuk menghadiri pesta mereka. Suatu waktu, kawan-kawan di jurusan filsafat mengundang saya untuk menghadiri pesta mereka. Didorong oleh keingintahuan tentang pesta yang diadakan, saya memenuhi undangan tersebut. Pesta diadakan di apartement salah seorang mahasiswa. Pesta diadakan dari jam 7 sampai larut malam.

Saya berangkat ke tempat pesta bersama Wynn, teman kuliah yang mantan tentara AS. Dengan menumpang mobilnya, kami berangkat menuju tempat pesta. Di tengah jalan, Wynn mengajak saya berhenti di salah satu liquor store, tempat membeli berbagai macam minuman keras. Saya lalu bertanya, “Untuk apa beli minuman? Bukankah kamu sudah tidak minum alkohol lagi?”. Dengan enteng dia menjawab, “Di sini, kalau ada pesta masing-masing orang harus membawa minuman sendiri dan juga sedikit makanan kecil”. Lalu saya mengatakan, “Saya seorang Muslim. Menurut agama saya, saya tidak boleh meminum alkohol”. Dengan sedikit mengerutkan dahi, Wynn lalu mengatakan, “Ya sudah, kamu tidak usah beli minuman berakohol. Beli saja soda. Yang penting kamu tetap minum dengan kawan-kawan lainnya”.

Saya melihat Wynn membeli setengah lusin minuman beralkohol. Melihat itu, saya juga membeli setengah lusin Soda (sprite) dan sedikit makanan kecil. Saya lihat, selain membeli minuman dan sedikit makanan kecil, Wynn juga membeli keju (cheese). Wynn menjelaskan alkohol dan keju sering dipadukan orang. Katanya, perpaduan itu disebut “a classic combination”. Tentu sedikit menjawab pertanyaan dalam hati saya. Namun, saya belum tahu apa sesungguhnya manfaat keju itu ketika minum alkohol.

Tanpa banyak bertanya, kami meninggalkan toko itu. Tidak begitu lama, sampailah kami di tempat tujuan. Di sana ternyata sudah berkumpul mahasiswa-mahasiswa lainnya. Tuan rumah lalu membunyikan gelas yang ada di tangannya. Dia kemudian mengucapkan selamat datang kepada kawan-kawan lainnya. Selain diminta untuk saling berbagi minuman dan makanan kecil, dia menetapkan satu aturan. Aturan itu adalah “semua orang dilarang membicarakan pelajaran yang sedang dipelajari di kampus”. Menurutnya, jangan sampai pembicaraan tentang perkuliahan justru membuat pikiran semakin mumet.

Hanya itu yang disampaikannya. Setelah itu, mahasiswa bercerita antara satu dengan yang lain. Kebanyakan mereka berdiri. Mereka saling bertukar minuman. Saya sedikit agak minder karena saya tidak mungkin bertukar minuman dengan mereka. Dengan sedikit-sedikit meminum Sprite yang saya bawa, saya mencoba berbicara dengan beberapa orang teman. Salah seorang teman, Jordan (saya ingat persis nama kawan ini), menghampiri saya. Dia bertanya, “Saleh, apa minuman yang kamu bawa?” Dengan sedikit ragu, saya menunjukkan kaleng minuman saya. Dia lalu mengatakan, “Kamu boleh mencoba minuman saya. Ini lumayan bagus. Tidak akan membuat kamu mabuk”. Dengan sopan saya menjawab, “Saya tidak minum alkohol”. “Lalu bagaimana kamu bisa mabuk?”, katanya. Kembali mengangkat kaleng minuman, saya mengatakan, “Ini saja sudah cukup membuat saya mabuk”.

Entah kenapa, dia langsung tertawa terbahak-bahak. Dia ke sana kemari menceritakan kalau saya mabuk gara-gara soda. Mahasiswa lain yang sudah mulai mabuk juga ikut tertawa. Saya tidak merasa tersinggung ditertawakan seperti itu. Malah saya bangga karena masih bisa mempertahankan jati diri saya yang sesungguhnya.  Tidak heran, tak satupun dari mereka yang meminta soda saya. Sampai kami pulang, saya hanya bisa menghabiskan satu botol minuman yang saya bawa. Kalau saya minum semua, kemungkinan saya bisa mabuk juga, he he..

Kurang lebih jam 12 malam, saya mengajak Wynn pulang. Meski dia masih asyik bicara dengan teman-teman lain, dia menuruti ajakan saya. Kami duluan pulang dari tempat itu. Sementara mahasiswa yang lain masih asyik berbincang dan bercengkrama. Saya tidak tahu persis jam berapa mereka bubar. Di tengah jalan Wynn bertanya bagaimana tanggapan saya tentang pesta itu. Saya dengan diplomatis menjawab cukup bagus. Banyak pengetahuan yang saya peroleh dari pesta seperti itu.

Di lain kesempatan, salah seorang Professor saya mengajak saya dan Wynn untuk bertamu ke rumahnya merayakan “Thanksgiving day”. Tentu dengan senang hati saya menerima undangan itu. Di lain pihak, saya juga ingin mengetahui budaya ini. Setelah sholat magrib, saya dijemput Wynn di apartment saya. Ternyata, hanya kami berdua yang diundang.

Setiba di rumah Professor Cafaro yang cukup asri dan estetik, kami diperkenalkan dengan isteri dan kedua orang anak laki-lakinya. Anak-anak yang masih kecil itu kelihatan sangat lucu dan menyenangkan. Anak-anaknya diminta untuk memperkenalkan diri dan menceritakan sedikit soal mainan dan seputar sekolah mereka. Saya melihat keluarga ini cukup bahagia. Isterinya pun sangat ramah dan baik.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, isteri Professor Cafaro mengundang kami ke meja makan. Saya melihat beberapa jenis makanan dihidangkan. Tidak lupa disajikan satu ekor ayam kalkun (turkey) di tengah-tengah meja makan. Sebelum dipersilahkan makan, Cafaro menjelaskan kepada saya cerita dibalik perayaan thanksgiving day. Saya lupa detail ceritanya. Intinya, perayaan thanksgiving day diperingati pada hari Kamis minggu keempat setiap bulan November setiap tahunnya. Menurutnya, perayaan ini pertama sekali diadakan di Massachusetts, yang ketika itu masih bernama Plymouth. Perayaan dilaksanakan oleh para koloni (pendatang dari Eropa) yang berhasil sampai ke sana sekitar tahun 1600-an. Pada saat mereka tiba, penduduk setempat sedang menikmati hasil panen yang melimpah. Oleh penduduk setempat, para pendatang ini disambut dengan baik dan diajak untuk gabung merayakan pesta panen mereka. Dari situlah kemudian muncul istilah thanksgiving sebagai manifestasi dua kesyukuran. Pertama syukur karena koloni tiba dengan selamat. Kedua syukur karena rakyat setempat dianugerahi panen yang melimpah. Di akhir, Cafaro menjelaskan terdapat banyak versi tentang asal-usul perayaan thanksgiving.

Setelah selesai menjelaskan sejarah thanksgiving, Cafaro lalu mengajak kami makan. Dia mempersilahkan saya dan Wynn mengambil potongan ayam Kalkun yang ada. Saya agak sedikit kikuk. Soalnya, dalam benak saya kalkun itu pastilah tidak dipotong secara Islami. Artinya, secara fiqh tidak halal untuk di makan. Saya tidak menemukan alasan apa pun untuk menolak. Kalau menolak, Cafaro pasti kecewa. Padahal, dia mengundang kami sebagi bentuk penghormatan. Dengan sedikit ragu, akhirnya saya mengambil satu potong ayam kalkun, beberapa potong roti dan sedikit lalapan. Ketika Wynn, Cafaro, dan isterinya serius bicara, saya mengambil potongan ayam di piring saya. Potongan ayam itu kemudian saya balut dengan dua lembar tissue. Lalu saya memasukkannya ke kantong celana. Alhamdulillah, rasanya lega karena saya berhasil melewatkan momentum makan kalkun yang menurut saya tidak halal itu tanpa harus membuat Cafaro kecewa.

Menjelang pulang, Cafaro mengantar kami ke pintu depan. Salju yang turun cukup lebat membuat udara terasa sangat dingin. Sebelum pamit, Cafaro menanyakan apakah saya pernah main ski. Saya jawab belum pernah. Lalu dia mengajak untuk bermain ski di akhir minggu. Tidak lupa dia menjelaskan kalau dia punya beberapa peralatan ski yang bisa dipinjamkannya kepada saya. Tentu saya sangat senang mendengar ajakan itu. Hati kecil saya sempat berkata, Professor Cafaro ini adalah betul-betul professor yang baik. Dia menganggap mahasiswa sebagai teman dan mitra, bukan sebagai orang asing yang kedudukannya berada di bawah dia. Di tengah salju yang turun semakin lebat, kami meninggalkan rumah Cafaro. Sementara potongan ayam kalkun masih tersimpan utuh di kantong celana saya.

BERSAMBUNG.

 

Read 8454 times Last modified on Saturday, 30 June 2012 20:42
Saleh Daulay

Rumah online Anggota DPR-RI Fraksi PAN. Fight for Justice and Humanity.

Add comment


Security code
Refresh

Kontak

Gedung DPR-RI, Jl. Gatot Subroto, Nusantara I, Lantai 19, Senayan Jakarta.

Email: i[email protected]

DPR Links